5 Kunci Cara Budidaya Lobster Air Tawar Terbukti Berhasil

5 Kunci Cara Budidaya Lobster Air Tawar Terbukti Berhasil

Budidaya lobster air tawar sebaiknya harus dipersiapkan sebaik mungkin sehingga lobster dapat berkembang maksimal, dan risiko kematian karena stres atau sebab lainnya dapat ditekan serendah mungkin.

Di alam liarnya, lobster dengan nama latin Freshwater crayfish ini biasanya hidup di rawa danau atau sungai.

lobster air tawar
lobster air tawar

Hewan bercangkang lunak ini relatif mudah untutk dibudidayakan dibanding jenis lobster lainnya, dan dapat dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia selama persediaan air tawar dan faktor lingkungan lainnya memenuhi untuk berkembangnya lobster.

Budidaya lobster ini sangat cocok dilakukan pada daerah tropis, dan kabar baiknya tidak memerlukan modal yang terlalu besar.

Semua orang dapat melakukan bisnis ini, bahkan jika tidak tersedia lahan yang luas (di perkarangan rumah juga bisa).

Contoh, budidayanya dapat dilakukan dengan menggunakan aquarium jika Anda tidak memiliki lahan yang memadai.

Atau jika memungkinkan, tentu saja menggunakan bak kolam konvensional lebih sangat dianjurkan untuk jangka panjangnya jika memang berniat serius dalam bidang ini.

Syarat Hidup Lobter Air Tawar, Wajib Dipahami!

Sekali lagi, iklim tropis adalah syarat utama dan hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena kita tinggal di wilayah tropis. Dengan kata lain tidak ada syarat tertentu pada pemilihan lokasi budidaya, terlebih lagi untuk industri skala kecil rumah tangga!

Lain halnya jika orientasinya untuk budidaya industri skala besar, tentu pemilihan lokasi wajib diperhitungkan.

Dalam hal ini, biasanya faktor sosial ekonomi sangat bepengaruh, seperti misal apakah lokasi tersebut mudah diakses, dan apakah tersedia sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang jalannya industri?

Faktor lain yang penting dipertimbangkan adalah sumber air dan kualitas air, mengingat air menjadi kebutuhan mutlak paling utama pada budidaya lobster air tawar.

Lobster air tawar idealnya dipelihara dengan kualitas air sebagai berikut:

  1. Tingkat pH keasaman air sekitar angka 7 s.d 8, dengan suhu rata-rata 20 s.d 24 derajat Celsius.
  2. Dengan kandungan oksigen memadai, minimal 7 ppm. Sedangkan untuk kandungan karbon dioksida tidak lebih dari angka 10 ppm.
  3. Perhatikan juga tingkat kesadahan air, idealnya pada angka 10 s.d 12 derajat dH. Ini penting untuk menjamin ketersedian mineral yang cukup, apalagi lobster hewan bercangkang sehingga membutuhkan asupan mineral yang memadai untuk pertumbuhan cangkangnya.
  4. Cek juga tingkat salinitas (keasinan air), sebaiknya di bawah angka 5 ppt atau usahakan mendekati angka 0 ppt. Semakin asin airnya semakin lambat pertumbuhan lobster air tawar, biasanya ditandai dengan lebih jarangnya lobster mengganti kulit.

Sumber air yang sering digunakan adalah air tanah, karena lebih steril dari bahan kimia seperti kaporit, namun tetap disarankan melakukan pengujian lebih dulu (pastikan air tanah tersebut layak digunakan dengan memperhatikan beberapa variabel di atas).

Pilihan lainnya adalah air sungai atau air irigasi juga cukup bagus digunakan, apalagi jika kita bisa membuat airnya mengalir ke kolam secara stabil (jadi kualitas air selalu bagus karena selalu tergantikan dengan aliran air yang baru dan fresh). 

Yang perlu diperhatikan jika memilih air sungai, pastikan airnya benar-benar masih bersih atau tidak tercemar dengan limbah rumah tangga, bahan pestisida, atau limbah industri disekitar rumah Anda.

Kita juga bisa menggunakan air PAM, tapi tentunya harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu agar air layak digunakan.

  1. Yang paling umum adalah dengan mengendapkan air PAM dalam waktu beberapa hari agar kandungan karporitnya berkurang.
  2. Bisa juga dengan metode aerasi, menggontakannya dengan udara selama kurang lebih 1×24 jam terus menerus.
  3. Atau dengan cara menggunakan media filter tertentu (seperti batu zeolite dan karbon aktif).

Untuk pemula, sebaiknya hindari penggunaan air PAM karena memerlukan pemahaman teknis yang lebih sulit dipahami.

Mempersiapkan Kolam Pemeliharaaan

Kolam harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mendukung pertumbuhan lobster air tawar dengan baik dari bibit hingga dewasa, sebaiknya disesuaikan dengan luas lahan, tapi minimal ukurannya kurang lebih 2 m persegi dengan kedalaman 50 cm.

Kolam dapat dibuat permanen dengan campuran semen dan pasir (jika memungkinkan), sehingga lebih tahan lama.

kolam lobster
kolam lobster

Lobster adalah hewan yang cukup lihai untuk meloloskan diri dan kabur dari kolam, sehingga juga sangat penting untuk memastikan kolam dapat menjaga lobster dengan baik.

Biasanya permukaan kolam dilaci dengan semen sehingga cukup licin dan lobster tidak bisa memanjat, bisa juga menggunakan kaca atau porselen.

Jangan lupa membuat pipa pembuangan pada dasar kolam, diameter dan jumlah pipa ini sebanding dengan luas kolam.

Pastikan pembuangan air berjalan sesingkat mungkin, hal ini penting karena waktu panen biasanya dilakukan pada pagi hari dan secepat mungkin sehingga lobster dapat sampai tempat tujuan sebelum berganti kulit.

Lobster cenderung berganti kulit pada siang hari. Jika panen memakan waktu yang lama, dikhawatirkan lobster berganti kulit dalam perjalanan dan akan mudah mati karena lebih rentan kepanasan.

Kolam pemeliharaan yang baru jadi sebaiknya jangan langsung digunakan, lakukan perendaman terlebih dahulu untuk menghilangkan kandungan zat pada semen yang bisa berbahaya bagi perkembangan lobster.

  1. Persiapkan dahan pelepah pisang secukupnya sesuai dengan luas kolam.
  2. Belah-belah pelepah pisang tersebut, kemudian masukkan ke dalam kolam.
  3. Setelah itu tuangkan air secukupnya ke dalam kolam, biarkan kurang lebih 1 minggu.
  4. Air dapat diganti seacara teratur, setiap 2 atau 3 hari.

Untuk mengetahui kolam sudah layak digunakan atau belum, tes terlebih dahulu dengan memasukkan beberapa lobster dalam jumlah kecil dan lihat apakah masih bertahan hidup dalam satu minggu.

Pada prinsipnya, ulasan cara pembuatan kolam pemeliharaan ini juga dapat diterapkan untuk pembuatan kolam pemijahan massal dan kolam pendederan bibit.

Peralatan Lainnya

Yang juga tidak kalah penting disiapkan adalah aerator, alat yang sangat vital untuk memastikan suplai oksigen dalam air tercukupi, tanpa alat ini lobster akan mudah cepat mati sebelum dipanen.

Ukuran dan penggunaan aerator disesuaikan dengan luas kolam atau populasi lobster dalam satu kolam.

Siapkan juga shelter (media sembunyi) karena lobster memang binatang air yang gemar bersembunyi, selain itu shelter juga berguna untuk melindungi resiko kanibalisme (pemangsaan lobster dari lobster lainnya).

instagram okdogi
shelter untuk lobster
shelter untuk lobster

Ada banyak pilihan shelter ini, beberapa yang umum digunakan sebagai berikut:

  1. Potongan pipa pralon, mungkin yang paling sering digunakan kerena lebih fleksibel dan mudah didapatkan (serta lebih awet).
  2. Tali rafia, lebih ringan dan mudah digunakan (tapi tidak seawet pralon).
  3. Batu bata roaster, lebih alami tapi berat dan mudah rapuh jika sudah terendam air dalam waktu yang lama.
  4. Potongan bambu, juga material yang sifatnya alami dan murah meriah. Tapi daya tahannya juga tidak sekuat pralon.
  5. Pilihan shelter lainnya meliputi tanaman (misal enceng gondok), tumpukan daun-daunan, waring, dan ban bekas.

Memilih Indukan

Seperti kebanyakan budidaya lainnya, pemilihan indukan berperan penting untuk mendapat benih dan bibit lobster air tawar yang unggul.

indukan lobster
indukan lobster

Disini pengalaman Anda sangat membantu, tapi secara umum berikut ciri-ciri indukan lobster air tawar yang baik:

  1. Umur indukan harus sudah cukup produktif, usahakan minimal usia indukan 7-8 bulan.
  2. Indukan memiliki fisik yang sehat pada cangkang dan kulitnya (tidak cacat /tidak terserang penyakit).
  3. Semakin besar indukan semakin bagus biasanya, minimal bobot indukan 20 s.d 30 gram untuk jantan dan betina.

Tahap Pemijahan

Pemijahan masih dilakukan secara alami dengan sedikit campur tangan manusia, proses perkawinan masih sangat tergantung pada perilaku (keinginan) masing-masing indukan, tapi juga bisa sedikit didorong dengan lingkungan sekitar yang mendukung.

Faktor lingkungan yang dapat meningkatkan peluang perkawinan diantaranya:

  1. Suhu air harus cukup mendukung, sekitar 23 s.d 29 derajat Celsius.
  2. Faktor paparan cahaya mungkin juga berpengaruh, dalam 1x 24 jam indukan dalam kolam pemijahan harus mendapatkan 12 jam gelap dan 12 jam terang (referensi Jones, 2000), tentu bukan hal yang sulit untuk daerah tropis seperti Indonesia.
  3. Lebih disarankan agar kolam atau akuarium pemijahan tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Secara garis besar teknik pemijahan dilakukan dengan dua cara; (1) secara individu dan (2) massal.

Pemijahan teknik individu adalah dengan cara mempertemukan indukan jantan dan betina (perbandingan 1:1) pada kolam pemijahan ukuran kecil dengan dukungan aerator (biasanya berupa akuarium ukuran kecil).

Sedangkan untuk pemijahan teknik massal, diperlukan kolam pemijahan atau aquarimum ukuran besar (jumlah dan kekuatan aerator disesuaikan dengan luas kolam pemijahan) — dengan komposisi jumlah indukan betina dan jantan 2:3 per meter persegi.

Jangan lupa meletakkan media sembuyi (misal potongan pipa pralon, batu bata roaster, atau lainnya seperti yang telah kita bahas pada paragraf sebelumnya).

Indukan betina yang sukses mengalami pembuahan biasanya ditandai dengan timbulnya foam (busa) di sekitarnya.

Pisahkan segera betina yang sedang mengandung telur, dapat dicampur pada kolam /wadah yang sama dengan indukan betina lainnya yang juga sedang bertelur (pastikan kerapatan populasi dalam satu kolam ini cukup memadai, tidak terlalu padat minimal 1-2 indukan per meter persegi).

Yang perlu diingat, saat menangkap indukan betina ini harus dilakukan dengan hati-hati (usahakan pake tangan kosong) sehingga tidak stres.

Jika telur berhasil menetas, juventil (bibit lobster muda) akan muncul selang 3-4 minggu kemudian dan siap untuk dipindahkan ke dalam kolam pendederan.

Pendederan diperlukan untuk menstimulasi bibit agar lebih cepat tumbuh lebih besar sebelum dimasukan pada kolam pembesaran utama.

Komposisi penyebaran pendederan adalah 1000 ekor juventil untuk tiap 2x1x0,5 m area.

Biasanya bibit akan siap dipindahkan dari kolam pendederan ke kolam pemeliharaan utama setelah menginjak usia 2 bulan dengan ukuran badan 5 s.d 7 cm.

Pemeliharaan

Kualitas air harus dicek secara berkala untuk memastikan segala variabel untuk mendukung daya tumbuh kembang lobster terpenuhi.

Diantaranya yang paling umum adalah; keasaman air, tingkat kekeruhan air, dan kandungan oksigen yang terlarut (silakan baca kembali bagian “syarat hidup lobter air tawar” di atas.).

Cek juga tingkat kandungan amoniak dalam air secara berkala, jumlah amoniak yang melebihi ambang batas normal (di atas 0,05 mg/L) dapat menyebabkan keracunan.

Amoniak biasanya dihasilkan dari proses reaksi kimia atas pengendapan atau pembusukkan kotoran/bekas makanan di dasar kolam, makanya harus rajin membersihkan kolam!

Sedangkan untuk jenis pakannya, dapat disesuaikan dengan usia lobster.

Untuk lobster yang masih dalam tahap pendederan diberikan makanan berupa pelet dengan tekstur butiran lebih kecil dibanding lobster yang sudah berada pada kolam pembesaran utama. Jenis pelet yang digunakan biasanya yang tenggelam.

Atau bisa juga memberikan pakan organik (alami) seperti; sayuran, umbi-umbian, atau kacang-kacangan yang sudah dimasak terlebih dahulu agar teksturnya lebih lunak.

Panen dan Catatan

Waktu yang diperlukan untuk membesarkan bibit hingga ukuran siap konsumsi (sekitar 100 gram per ekor) kurang lebih 7 s.d 8 bulan.

Jika ditambah dengan waktu pendederan benih ke bibit (sekitar 2 bulan), maka siklus panen untuk budidaya lobster air tawar adalah sekitar 9 s.d 10 bulan.

panen lobster air tawar
panen lobster air tawar

Meskipun tidak sampai setahun, bisa kita katakan pertumbuhan lobster air tawar sangat lambat apalagi jika dibandingkan dengan budidaya hewan air tawar lainnya seperti udang galah (hanya memerlukan waktu 5-6 bulan untuk dipanen).

Jadi disini kita harus pintar mengakalinya, sebaiknya terus melakukan pendederan sesering mungkin karena indukan lobster dapat bereproduksi terus sepanjang tahun pada area tropis.

Jadi sambil menunggu lobster di kolam pembesaran tumbuh hingga layak konsumsi, usahakan memiliki calon bibit baru pada usia yang berbeda-beda sehingga ketika panen tiba maka selanjutnya akan terus menerus disusul dengan lobster lainnya sehingga akan bisa panen lebih sering.

Baca juga

instagram okdogi

Leave a Comment