Metode Praktis Cara Menanam Sistem Hidroponik

Metode Praktis Cara Menanam Sistem Hidroponik

Cara menanam hidroponik cukup digemari oleh sebagian masyarakat karena kepraktisannya yang tidak memerlukan tanah dan lahan yang luas.

Hidroponik sendiri berarti hidro (air) dan ponik (dari kata phonic yang berarti ‘cara menanam’), dengan kata lain hidroponik artinya cara menanam dengam mengandalkan air sebagai wadah daya dukung utama pertumbuhan tanaman tanpa melibatkan tanah.

Teknik budidaya ini sangat cocok untuk beragam jenis sayuran yang dapat kita tanam sendiri dirumah.

Secara ekonomi, metode hidroponik dapat memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut:

  1. Tentu saja keuntungan pertama adalah kemudahannya yang dapat dikerjakan oleh semua orang.
  2. Keuntungan terbesar kedua adalah tidak memerlukan lahan yang luas, sangat cocok untuk gaya hidup urban di perkotaan.
  3. Jauh lebih praktis dibanding cara konvensional yang memerlukan lahan tanah.
  4. Minim perawatan karena tidak diperlukannya penyiangan dan penggunan pestisida. Dengan ini kualitas tanaman bisa lebih mudah dikontrol.
  5. Lingkungan yang lebih steril dan penggunaan pupuk yang lebih efisien memungkinkan tanaman tumbuh lebih cepat, sehingga mempercepat siklus panen.

Meskipun praktis, tentu saja ada beberapa langkah yang harus kita pahami agar hasilnya juga sesuai harapan.

Berikut ulasan secara lengkap tentang bagaimana cara menanam hidroponik agar hasil yang kita dapat lebih maksimal.

Penyemaian Benih Menjadi Bibit Tanaman

Karena alasan utama budidaya hidroponik adalah kemudahannya, tentu saja harus sejalan dengan tahap penyemaiannya.

Ada beberapa cara mendapatkan bibitnya, yang termudah adalah dengan langsung membeli bibit dari pasar tanaman. Namun jika hendak menekan biaya, bisa kita lakukan penyemain sendiri dan tidak sulit.

Salah satu cara paling praktis adalah dengan menggunakan media penyemaian berupa rockwool, sejenis fiber elastis yang berongga.

penyemaian dengan rockwool
penyemaian dengan rockwool

Media non-organik ini menjadi pilihan terlaris dikalangan pencinta tanaman hidroponik karena mudah kita dapatkan dan murah meriah.

Secara umum, berikut langkah-langkah penyemaian:        

  1. Siapkan peralatan yang kita perlukan, biasanya cukup sederhana. Terdiri dari biji tanaman, rockwool, dan pisau /gunting.
  2. Gunting media rockwool dengan ukuran secukupnya, biasanya 3-4 cm persegi, dengan tebal sekitar 2 cm.
  3. Buat lubang dengan kedalam kurang lebih 1 cm.
  4. Masukkan benih /biji ke dalam lubang. Gunakan pinset jika diperlukan, terkadang cukup susah melakukannya karena ukuran benih yang sangat kecil.
  5. Semprotkan air secukupnya agar media penyemaian rockwool basah dan cukup lembab untuk menstimulasi bercambahnya benih.

Lakukan penyiraman sehari sekali dipagi hari, tapi jangan sampai basah kuyub, secukupnya saja!

Setelah 2-3 hari, vegetasi bibit akan mucul. Jika sudah tumbuh dua atau tiga daun, biasanya bibit sudah siap untuk dipindah ke media tanam utama.

Beragam Jenis Sistem Hidroponik

Ada beberapa pilihan jenis sistem yang dapat kita gunakan pada budidaya hidroponik.

Namun mungkin yang paling sering digunakan di tanah air adalah metode sumbu (Wick) dan Nutrient Film Technique (NFT). Setiap metode memiliki kelebihan masing-masing.

Untuk budidaya dengan hasil sebaran tanam yang banyak, tentu hasilnya juga lebih banyak, NFT biasanya pilihan terbaik untuk diaplikasikan. 

Namun jika menyukai cara yang lebih praktis, dapat menggunakan wadah apa saja selama bisa menampung air, metode Wick jawabannya.

Hidroponik sistem NFT

Secara garis besar, penerapan metode ini ditanah air biasanya menggunakan pralon atau talang air sebagai media tanam utama.

hidroponik sistem nft
hidroponik sistem nft

Bahkan juga diperlukan pompa air kecil untuk mengatur sirkulasi air sedemikan rupa sehingga tanaman mendapat aliran air yang terbaik untuk pertumbuhan maksimal. Bisa menggunakan pompa air aquarium!

Cara ini lebih disarankan jika kita sudah cukup familiar dengan budidaya hidroponik. Adapun beberapa hal mendasar yang diperhatikan dengan metode ini sebagai berikut.

Mempersiapkan perkakas media tanam utama

Siapkan peralatan dasar yang dibutuhkan, meliputi; pipa pralon diameter secukupnya (bisa juga memakai talang air), selang air, gelas plastik untuk wadah bibit, dan tentunya pompa air pendukung.

Diameter pralon yang dipilih menyesuaikan ukuran besar tanaman yang akan ditanam. Untuk sayuran, ukuran 2,5 s.d 3 inchi sudah cukup memadai.

Peralatan pendukung lainnya meliputi; bor untuk melubangi pralon, solder, dan gergaji untuk memotong pipa pralon.

Susun perkakas tersebut sedemikan rupa sehingga mendukung sirkulasi air untuk pertumbuhan bibit. Desainnya sangat beragam, tergantung kebutuhan.

sistem nft
sistem nft

Untuk cara sederhananya sebagai berikut:

  1. Ukur panjang pipa pralon sesuai kebutuhan, gunakan gergaji untuk memotongnya.
  2. Lubangi pralon dengan jarak yang seragam, sekitar 15-20 cm. Jarak lubang tergantung jenis tanaman yang kita tanam.
  3. Diameter lubang harus mampu menyangga gelas plastik dengan baik, usahakan bagian bawah plastik tidak menyentuh dasar pralon!
  4. Atur kemiringan pipa pralon sehingga air dapat sedikit mengalir pada salah satu sisi pralon.
  5. Pada sisi pralon yang lebih rendah, buat lubang kecil dibawahnya untuk mengalirkan air ke wadah penampung air.
  6. Jika diperlukan, pasang selang pada lubang kecil tersebut sehingga dapat menjangkau wadah penampung air.
  7. Pasang juga selang pada sisi pralon yang memiliki tingkat kemiringan lebih tinggi. Siapkan pompa airnya, hubungkan ke selang tersebut.

Mempersiapkan air dan larutan nutrisi hidroponik

Air yang digunakan sangat disarankan air sumur atau air sungai.

instagram okdogi

Hindari menggunakan air pam /air ledeng, karena biasanya mengandung karporit. Atau jika harus menggunakannya, endapkan terlebih dahulu selama kurang lebih 1-2 minggu!

Untuk nutrisi tanamannya, kita gunakan pupuk yang cair, sehingga dapat mudah larut dengan air. Larutan inilah yang biasanya disebut larutan nutrisi hidroponik.

Ada banyak pilihan, untuk tanaman organik tentu saja kita hindari pupuk kimia.

Kita dapat menggunakan misalnya pupuk cair terbuat dari kompos, pupuk kandang, bubuk arang sekam, bekatul (bubuk kulit beras), dan bubuk jerami.

Namun untuk praktisnya, jika Anda tidak mau repot, dapat juga ditambahkan sedikit pupuk cair KCL dan NPK.

Komposisi pupuk menyesuaikan dengan jenis tanamannya. Untuk sayuran umum seperti sawi, bayam, dan selada, bisa Anda coba pembuatannya sebagai berikut:

  1. Siapkan bahan pupuknya; 1000 gram NPK, 1000 gram KCL, dan 50 gram daun Gandasil.
  2. Campur semua bahan diatas, larutkan ke dalam air sumur 20 liter, masukkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga tercampur rata.
  3. Kemudian tuangkan larutan yang masih cukup pekat ini ke dalam air sumur 100 liter. Aduk hingga rata, larutan praktis nutrisi hidroponik siap kita gunakkan.

Pemindahan bibit tanaman ke media tanam utama

Setelah perkakas media tanam utama siap, segera pindahkan bibit tanaman ke wadah bibit (gelas plastik)!

Lubangi gelas plastik yang telah disiapkan dengan solder, buat lubang secukupnya sehingga akar tanaman dapat bernapas dengan baik dan menjangkau aliran air ketika diletakan pada lubang pipa pralon.

Masukkan media tanam ke gelas plastik (seperti rockwool, pecahan genteng, pecahan bata, atau serabut kelapa), fungsinya untuk menjaga bibit tetap tegak dan membantu penyerapan air.

Setelah itu letakkan bibit tanaman ke gelas plastik, kemudian segera pindahkan pada lubang besar pipa pralon yang telah dibuat.

Mengatur sistem sirkulasi air

Tuang secukupnya larutan nutrisi hidroponik yang telah disiapkan ke dalam wadah penampung air. Hidupkan pompa sehingga air mengalir dengan baik dari wadah penampung ke pralon.

Penting, atur kekuatan pompa airnya sedemikian rupa sehingga ketinggian air pada pralon tidak penuh!

Usahakan akar bibit tanaman sebagian masih terekspos dengan udara, dan sebagian terendam aliran air.

Hal ini berguna untuk memastikan akar tanaman mendapatkan suplai oxygen lebih untuk pertumbuhan!

Selain itu, desain ini mengalirkan air secara terus menerus air ke pipa pralon, dan mengalirkannya kembali ke wadah penampung air.

Dengan aliran yang sedemikian rupa, tanaman dapat distimulasi tumbuh lebih cepat, alhasil akan mempersingkat siklus panen.

Kelemahan metode NFT

Peralatan dan kelengkapan yang kita perlukan cukup kompleks, mulai dari pompa dengan daya yang cukup untuk mengalirkan air, hingga persoalan persediaan nutrisi yang harus diatur sedemikian rupa agar seragam untuk semua tanaman pada pipa pralon.

Karena aliran air bersumber pada satu wadah, jika satu tanaman terkena penyakit akan mudah menular ke tanaman lainnya, terlebih lagi karena adanya aliran air yang dipompa terus menerus.

Selain itu, penggunaan pompa akan membuat ketergantungan pada listrik.

Hidroponik dengan Metode Sumbu (Wick)

Cara ini lebih sangat disarankan untuk pemula, karena lebih mudah untuk dikerjakan dan tidak memerlukan persoalan teknis yang cukup sulit dipahami oleh orang awam.

hidroponik sistem sumbu
hidroponik sistem sumbu

Pada dasarnya masih sama dengan metode NFT, tapi tidak membutuhkan pompa untuk mengalirkan air, melainkan menggunakan sumbu.

Mempersiapkan wadah tanam sumbu

Wadah tanamnya dapat menggunakan apa saja selama dapat mendukung pertumbuhan tanaman dengan sistem hidroponik sederhana, salah satu yang paling sering digunakan adalah botol plastik air minum bekas.

Potong botol menjadi dua bagian, bagian atas botol yang mengerucut kita gunakan sebagai wadah tanam bibit, sedangkan bagian bawah botol sebagai wadah larutan nutrisi hidroponik.

Gunakan kain panel sebagai sumbu, masukkan secukupnya melalui mulut botol bagian atas. Sumbu ini berfungsi sebagai media pori-pori penyerapan larutan nutrisi hidroponik.

Buat lubang kecil secukupnya pada wadah tanam bibit untuk aliran udara, kemudian isi dengan media tanam (contoh pecahan bata, pecahan genteng, sekam, atau rockwool). 

Memindahkan bibit

Masukkan larutan nutrisi hidroponik secukupnya ke dalam wadah penampung (botol bagian bawah).

Kemudian, letakkan media tanam (botol bagian atas) dengan posisi terbalik, dimana mulut botol posisinya di bawah sehingga sumbu terurai mengenai larutan nutrisi hidroponiknya.

Setelah diyakini siap, pindahkan bibit ke wadah tanam. Pastikan bibit berdiri dengan baik, gunakan media tanam dibotol seperti pecahan gendeng atau sekam, untuk menyokongnya.

Tungu beberapa hari, jika dilakukan perawatan dengan benar, bibit akan tumbuh dengan baik seperti tanaman pada umumnya.

Kapan Harus Mengganti Larutan Hidroponiknya?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah kapan sebaiknya mengganti atau mengisi ulang larutan nutrisi hidroponik? Apakah tiap minggu atau tiap bulan sekali?

Tentu saja jawabannya beragam, tergantung beberapa faktor, diantaranya:

  1. Cuaca dan suhu lingkungan tempat Anda tinggal.
  2. Berapa jumlah tanaman dalam satu sistem. Makin banyak tanaman tentu lebih boros asupan airnya!
  3. Dan pH larutan hidroponiknya.

Pada cuaca panas seperti musim kemarau, suhu lingkungan dapat cukup tinggi untuk memicu evaporasi air lebih cepat. Hal ini dapat mempercepat penyusutan volume air dari larutan hidroponiknya.

Jika volume air turun, konsentrasi kepekatan larutan nutrisi akan lebih tinggi, sehingga mungkin akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Salah satu ciri yang umum adalah perubahan air larutan yang mengkental, lebih keruh.

Cara yang lebih akurat adalah dengan mengecek pH larutan dengan menggunakan TDS meter atau pH meter. Idealnya, pH larutan sekitar 5,5 s.d 6,5.

Kalau pH cukup tinggi, menambahkan beberapa liter air sumur tambahan mungkin dapat membantu. Atau jika diperlukan, ganti larutan nutrisi hidroponiknya dengan yang baru.

Sebagai penutup, jika Anda pemula dalam budidaya hidroponik, mulailah dengan jenis tanaman yang mudah ditanam, seperti bayam, cabai rawit, selada, sawi hijau,dan seledri.

Untuk jenis buah, bisa dimulai dari tanaman yang tidak membutuhkan air yang banyak misal tomat dan strawberry.

Baca juga

instagram okdogi

Leave a Comment