Lengkap! Jenis Burung Elang Yang Legal dipelihara dan Tidak

Lengkap! Jenis Burung Elang Yang Legal dipelihara dan Tidak

Burung Elang merupakan salah satu burung yang dapat dijumpai di seluruh wilayah Indonesia, bahkan beberapa diantaranya merupakan spesies endemik.

Spesies endemik merupakan spesies atau hewan yang hanya dapat ditemukan di wilayah tertentu saja, jadi ada beberapa dari jenis Elang yang hanya dapat ditemukan di Indonesia saja.

Burung Elang termasuk dalam hewan karnivora dan dikenal sebagai burung pemangsa. Sifatnya yang demikian ternyata membuat ia diciptakan dengan ukuran tubuh yang besar.

Ada satu genus dari burung ini yang terkenal dengan ukuran tubuhnya yang besar, yaitu dari genus Aquila.

Tidak semua jenis Burung Elang boleh dipelihara. Hal ini dikarenakan beberapa diantaranya termasuk dalam spesies yang dilindung, karena sudah terancam punah.

Walaupun ada beberapa spesies yang boleh dipelihara, tetapi lebih baik jangan memelihara burung ini, karena di habitat alaminya, ia merupakan predator, sehingga jika ditaruh dikandang, tentu membuatnya menjadi tersisa.

Jika memang ingin melihat burung elang secara langsung, maka kamu bisa mengunjungi tempat-tempat legal atau yang diperbolehkan memelihara burung ini, seperti di Taman Safari ataupun di Kebun Binatang.

jenis burung elang
jenis burung elang

Namun, sebelum melakukan kegiatan tersebut, alangkah baiknya jika kamu mengetahui terlebih dahulu beberapa jenis burung elang yang tersebar di Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Burung Elang yang berada di Pulau Jawa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang boleh dipelihara dan tidak boleh dipelihara alias dilindungi.

Akan tetapi informasi mengenai burung elang yang dilindungi tidak bisa ditebak, karena bisa jadi ketika informasi ini ditulis, status dari jenis burung elang tersebut sudah termasuk dalam spesies yang dilindung.

Oleh karena itu, sebelum kamu memutusan untuk memeliharnya, maka lebih baik mengecek statusnya terlebih dahulu.

Tak perlu berlama-lama lagi, berikut adalah informasi mengenai beberapa jenis burung elang tersebut.

Jenis Burung Elang yang Boleh Dipelihara

Elang Bondol

elang bondol

Elang ini mampu terbang secara menukik atau hovering. Ia gemar memakan kepiting, udang, ikan, anak ayam, serangga, burung berukuran kecil, dan mamalia kecil.

Nama latinya dari elang ini adalah Haliastur indus.

Bulu utama dari elang bondol adalah hitam dengan bagian kepala, leher serta dada berwarna putih.

Bagian sayap, punggung, ekor serta perutnya berwarna coklat terang, sehingga jika dilihat secara sekilas, burung ini hanya berwarna putih dan coklat saja.

Iris matanya berwarna coklat dengan paruh dan sera berwarna abu-abu kehijauan. Warna kakinya kuning suram.

Elang Brontok

elang brontok
elang brontok

Elang yang satu ini memiliki nama latin Spizaetus Cirrhatus. Ia dapat ditemukan di India da Sri Lanka, bahkan hingga tepi bagian Tenggara Himalaya, Filipina dan tentunya di Indonesia.

Ciri-ciri dari burung elang jenis ini adalah memiliki tubuh berwarna coklat pada bagian atas. Sisi bawah tubuh atau area perutnya berwarna putih.

Pada bagian sayap dan ekor terdapat garis hitam melintang.

Pada bagian lehernya dapat ditemukan coret-coret membujur berwarna hitam dan yang terakhir pada bagian dada terdapat bercak kecoklatan.

Elang Hitam

Elang hitam

Elang hitam

Nama latin dari burung elang yang satu ini adalah Ictinaetus Malayensis. Burung pemangsa ini memiliki beberapa mangsa kegemaran, yaitu tikus, kadal, tupai, ayam, bahkan hingga burung kecil.

Ia sering terbang rendah di atas tajuk ketika akan menyergap mangsanya.

Elang hitam memiliki ciri buru berwarna hitam pekat, sesuai dengan namanya. Namun, pada bagian ekornya berwarna kecoklatan.

Pada sera dan kakinya berwarna kuning, sehingga terlihat kontras dengan warna hitam di sekujur tubuhnya.

Jika dilihat secara seksama, jari kelingking elang ini tidak proporsional, karena begitu pendek. Ukuran tubuhnya sendiri dapat mencapai 70 cm.

Elang Jawa

elang jawa
elang jawa

Sesuai dengan namanya, elang yang satu ini merupakan spesies endemik di Pulau Jawa. Ia dapat dijumpai di hutan primer dengan ketinggian hingga 300 meter diatas permukaan laut.

Nama latin dari jenis ini adalah Niaetus bartelsi.

Elang Jawa mampu tumbuh hingga berukuran 60 cm sampai 70 cm, sama seperti elang hitam. Warna bulunya adalah coklat kemerahan dengan tengkuk yang berwarna coklat kekuningan.

Uniknya, elang jenis ini memiliki jambul dengan ujung berwarna putih yang biasanya terdiri dari 2-4 bulu yang panjangnya dapat mencapai 12 cm.

Pada bagian lehernya berwarna putih bercorak seperti garis-garis hingga ke bagian bawah atau perutnya.

Baca : jenis burung lovebird untuk dipelihara

Elang Ular Bido

ular bido
ular bido

Elang yang satu ini sering dijumpai di perkampungan penduduk.

Selain itu, ia juga dapat dijumpai di hutan primer, hutan sekunder, perkebunan, sekitar hutan pantai, bahkan hingga padang rumput atau savana. Nama latin elang ini adalah Spilornis cheela.

Elang ular bido yang masih remaja memiliki warna bulu yang lebih coklat, tetapi masih memiliki bulu putih yang berjumlah lebih banyak.

Ketika sudah dewasa, warna tubuh bagian atasnya akan berubah menjadi coklat abu-abu gelap dengan bagian perut berwarna coklat serta terdapat bintik-bintik berwarna putih.

Elang ini juga memiliki jambul, tetapi tidak sepanjang seperti yang dimiliki oleh elang jawa. Jambulnya pendek dan lebar serta berwarna hitam dan putih.

Pada bagian ekor terdapat garis abu-abu lebar yang berada di tengah garis-garis hitam. Iris matanya serta kakinya berwarna kuning, dengan paruh berwarna coklat abu-abu.

Jenis Burung Elang yang Tidak Boleh Dipelihara (Dilindungi)

Elang Alap Besra

Elang Alap Besra

Elang Alap Besra

Elang ini tersebar di Cina Selatan, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan India. Burung ini sangat menyukai reptil. Nama latinnya sendiri adalah Accipiter virgatus.

Bagian tubuh atas dari burung ini berwarna abu-abu gelap dengan bagian bawah berwarna putih ditambah dengan garis melintang berwarna coklat. Iris matanya kuning, paruhnya hitam, seranya abu-abu, dan tungkainya berwarna kuning.

Elang Alap Cina

elang alap cina
elang alap cina

Elang ini memiliki pola migrasi yang luas dan salah satu lokasi yang dipijakinnya ketika migrasi adalah Pulau Jawa.

Burung dengan nama latin Accipiter soloensis ini memiliki tubuh bagian atas berwarna abu-abu kebiruan dengan ujung berwarna putih jarang pada sekitar area punggung.

Tubuh bagian bawahnya berwarna putih dengan sedikit pola garis pada paha berwarna abu-abu.

Bagian dadanya berwarna merah karat. Iris matanya merah atau coklat dan paruhnya berwarna abu-abu dengan ujung berwarna hitam.

Elang Alap Jambul

elang alap jambul
elang alap jambul

Elang ini gemar memangsa burung kecil, mamalia kecil, kadal, katak dan beberapa serangga besar.

Ia dapat ditemukan di Asia Selatan, Asia Tenggara, Sundar Besar, Filipina, dan tentunya Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali.

Elang dengan nama latin Accipiter trivirgatus ini juga memiliki jambul, sama halnya dengan elang jawa dan elang ular bido, tetapi jambulnya lebih mirip elang ular bido, karena berukuran pendek.

Tubuh bagian atas elang ini berwarna coklat abu-abu dengan pola garis pada sayap serta ekornya.

Bagian tubuh bawahnya berwarna merah karat dengan dada memiliki coretan hitam. Terdapat pola garis hitam tebal melintang pada bagian perutnya.

Elang Alap Jepang

Elang ini dapat dijumpai di Solo, Riau, Bangka Belitung, Nias, Kepulauan Lingga, dan Kalimantan. Elang ini memiliki pola migrasi yang luas, sehingga tak heran persebaran juga luas.

Elang dengan nama latin Accipiter gularis ini memiliki tubuh bagian atas dan ekor berwarna abu-abu, tetapi pada ekornya terdapat tambahan pola garis melingkar berwarna gelap.

Bagian dada dan perutnya berwarna merah karat pucat dengan garis hitam sangat tipis yang berada di bagian tengah dagunya.

Irinya berwarna kuning hingga merah. Paruhnya berwarna biru keabuan-abuan. Sera dan kakinya berwarna kuning hingga hijau.

Elang Ikan Kepala Abu

Sesuai dengan namanya, burung in memang memiliki kepala berwarna abu-abu. Burung dengan nama latin Ichthyophaga ichthyaetus ini dapat dijumpai di India, Sunda Besar, Filipina, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Burung ini memiliki ciri berwarna coklat gelap pada bagian sayap dan punggungnya. Perut, paha serta pangkal ekornya berwarna putih dengan ujung ekor bergaris hitam lebar.

Iris matanya berwarna coklat hingga kuning dengan paruh dan sera berwarna abu-abu.

Elang Laut Perut Putih

Burung elang yang satu ini dapat dijumpai di Asia Tenggara, seperti Filipina dan Indonesia. Selain itu, ia juga dapat ditemukan di India dan bahkan tersebar secara luas di Australia. Elang ini memiliki nama latin Haliaeetus leucogaster.

Bagian tubuh atas dari elang laut perut putih berwarna abu-abu kebiruan. Bagian perut atau bagian bawahnya, kepala serta lehernya berwarna putih.

Iris matanya berwarna coklat dengan kuku, paruh, dan sera berwarna abu-abu.

Tungkai kakinya tidak berbubulu, sedangkan kakinya berwarna abu-abu. Elang ini dapat berukuran 70 cm hingga 85 cm.

Elang jantan memiliki berat 1,8 kg hingga 2,9 kg, sedangkan berat elang betina jauh lebih berat, yakni 2,5 kg hingga 3,9 kg.

Elang Perut Karet

Elang ini tersebar di India Selatan, Himalaya, Asia Tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar. Elang dengan nama latin Hieraaetus kienerii ini memiliki punggung berwarna hitam.

Pada bagian dada, tenggorokan, dan dadanya berwarna putih dengan sedikit coretan hitam.

Bagian ekornya terdapat garis hitam tebal dengan ujung berwarna putih. Iris matanya berwarna merah dengan paruh berwarna kehitaman. Sera dan kaki berwarna kuning.

Elang Tiram

Elang ini memiliki daerah persebaran yang luas, bahkan hampir di seluruh belahan bumi dengan mangsa utamanya adalah burung-burung kecil.

Elang dengan nama latin Pandion haliaetus ini juga kerap memangsa ikan, tikus, dan kelinci.

Ukuran tubuhnya termasuk besar, yakni dapat mencapai panjang hingga 60 cm. Bulu bagian atas atau punggungnya berwarna coklat dengan bagian bawah berwarna putih.

Pada bagian sekitar mata terdapat topeng gelap.

Elang Ular Jari Pendek

Seperti namanya, elang ini memangsa ular sebagai santapannya. Ia tersebar di Eropa Barat Daya, Afrika Barat, Iran, India, China, dan Mongolia. Di Indonesia, elang ini pernah ditemukan di Lombok, namun kemudian terbang ke arah Timur.

Elang dengan nama latin Circaetus gallicus ini memiliki tuubh bagian atas coklat keabu-abuan. Pada bagian bawahnya berwarna putih dengan coretan gelap.

Bagian tenggorokannya serta dadanya berwarna coklat. Iris matanya berwarna kuning, dengan paruh berwarna hitam, serta berwarna abu-abu, dan kaki berwarna kehijauan.

Sikep Madu Asia

Elang juga memiliki jambul, sama seperti yang dimiliki oleh beberapa jenis elang yang telah disebutkan. Jambulnya sendiri berwarna hitam dan berukuran kecil.

Burung dengan nama latin Pernis ptilorhynchus ini dapat ditemukan di India, Asia Tenggara hingga Sundar besar.

Ciri tubuh lainnya dari burung ini, yaitu terdapat garis-garis yang tidak beraturan pada bagian ekornya.

Warnanya bulunya terbilang unik dan bervariasi, tergantung dari hasil perkawinannya, karena ia berasal dari perkawinan dua ras elang yang berbeda.

Iris matanya berwarna jingga, paruhnya abu-abu, kakinya kuning, dan bulu sekujur tubuhnya berbentuk seperti sisik.

Setelah mengetahui beberapa jenis dari burung elang yang ada di Indonesia, maka saatnya kamu mengetahui alasan mengapa sangat tidak disarankan untuk memelihara burung elang.

Kamu harus tahu, burung elang di alam memiliki peran yang sangat penting.

Salah satu contoh kasus sederhana adalah sebagai pengontrol hama, seperti tikus, karena beberapa jenis elang yang disebutkan di atas merupakan predator utama dari hewan pengerat tersebut.

Tidak hanya itu saja, hingga saat ini, peternak burung elang juga masih belum muncul dan belum diketahui secara pasti, apakah pemerintah melakukan usaha untuk melestarikan mereka, terutama yang sedang dalam kondisi terancam atau dilindungi.

Kemungkinan besar, mereka, yaitu jenis-jenis burung elang yang dilindungi masih berkembang biak, tetapi secara alami, sehingga peningkatan jumlah populasinya juga tidak terlalu cepat.

Akan lain cerita jika dilakukan domestifikasi, kemudian dilakukan usaha untuk menghasilkan anakan elang melalui penangkaran, yaitu dengan cara inseminasi buatan.

Mungkin dengan cara tersebut, pengembalian populasi burung elang yang terancam akan jauh lebih cepat. Namun, jika orang-orang masih memburu mereka, tentu usaha ini juga akan sia-sia.

Oleh karena itu, lebih baik untuk tidak memelihara burung ini, kecuali jika memang populasinya sudah kembali dan burung yang dipelihara merupakan hasil dari peternakan, bukan hasil tangkapan liar.

Leave a Comment